Asma Nadia Berawal Dari Rumah Pinggir Rel Kereta Api

Tak pernah terbayang dibenak saya sebelumnya, sekarang saya memiliki banyak anak-anak lucu yang lugu yang secara rutin berkunjung ke rumah saya setiap sabtu sore, minggu pagi-siang dan minggu sore untuk mengikuti berbagai kegiatan di Rumah Baca AsmaNadia Cibatu Garut. Untuk peminjaman buku terbuka setiap siang mulai pukul 14.00 wib hingga sore hari  pukul 17.30 wib setiap harinya.

Rumah sederhana saya dengan ruang garasi mini dan halaman rumah yang kecil menjadi tempat membaca anak-anak dan tempat belajar serta berbagai kegiatan lainnya. Berawal dari kegemaran saya dan suami yang senang membaca, saya mengajukan proposal ke Yayasan AsmaNadia via email (saya mengetahui informasi Rumah Baca AsmaNadia dari Google, yang berjasa dalam terbentuknya Rumah Baca AsmaNadia Cibatu Garut).

Saya juga senang menulis cerpen atau apapun, termasuk mencari berita karena basic pekerjaan saya dulu seorang reporter. Selang 8 bulan pengajuan proposal saya, akhirnya 125 buku, spanduk dan stempel dikirimkan ke Rumah Baca AsmaNadia Pusat ke rumah saya dan oktober 2013 berdirilah Rumah Baca AsmaNadia Cibatu Garut (Alhamdulillah hingga kini sudah ada 800 buku lebih yang didapatkan dari pengajuan proposal ke beberapa penerbit dan beberapa donatur).

Pasti ingin tahu kan? Siapakah Asma Nadia? Yang suka sekali baca buku seperti novel, pasti mengenal Asma Nadia…bernama asli Asmarani Rosalba, seorang wanita bersahaja yang senang sekali menulis dan sudah 50 buku telah ditulisnya. 3 bukunya telah diadaptasi menjadi sinetron di RCTI Aisyah Putri The Series Jilbab In Love, Catatan Hati Seorang Istri dan Sakinah Bersamamu. Selain itu 4 bukunya telah difilmkan, Emak Ingin Ke Mekkah, Rumah Tanpa Jendela (Jendela Rara), Assalamualaikum Beijing dan Surga Yang Tak Dirindukan. Wow, keren kan? Selain itu Asma Nadia, yang saya panggil Bunda merupakan “Jilbab Traveller” yang sudah menjelajah dunia 50 negara dan lebih dari 200 kota di dunia, yang sebagiannya adalah Gratis…amazing, kapan saya bisa jalan-jalan ke luar negeri ya? Hehehe, Bali saja belum pernah saya kunjungi : D

Melihat kesuksesan Asma Nadia, kisahnya tak semudah membalikkan tangan. Sungguh kebahagiaan bagi saya dan anak-anak Rumah Baca AsmaNadia Cibatu Garut, pada sabtu 22 November 2014 Bunda Asma Nadia berkunjung ke Rumah Baca AsmaNadia Cibatu Garut bersama team dari AsmaNadia Publishing House. Kedatangan mendadak Bunda Asma Nadia setelah mengisi seminar di UNPAD, pukul 19.30 wib Bunda datang dan bercerita tentang kisah hidupnya yang menjadikan kisah inspiratif untuk kami semua.

2014-11-22 20.03.13

Bunda Asma Nadia bercerita, berawal dari kehidupan keluarganya yang tinggal di pinggir rel kereta api, bersama kakak tercintanya Helvy Tiana Rosa, Helvy dan Asma kecil senang sekali membaca buku. Bahkan bungkus sayuran yang ibu mereka beli, yang sudah kusut Asma baca, dari sisa uang jajannya Asma membeli buku bacaan. Terbersit di hati kecil Asma Nadia, kelak ingin sekali ia dapat menulis dan dapat meminjamkan buku bacaan gratis pada anak-anak. Sebuah cita-cita indah yang ternyata terwujud saat ini, sudah 150 Rumah Baca AsmaNadia tersebar di berbagai pelosok nusantara, dibantu para insan rendah hati yang juga mencintai anak-anak dan mempunyai tujuan mulia agar anak bangsa bisa menjelajah dunia melalui buku dan jauh dari ketertinggalan.

Bunda Asma Nadia bercerita jalan kehidupan yang dilalui Asma Nadia begitu berliku, saat kecil Asma pernah gegar otak karena terbentur besi tempat tidur hingga ia tak sekolah, Asma sering sakit-sakitan dari paru-paru, tumor dan hal tersebut tak membuatnya patah semangat. Saat sekolah, ia pernah menulis dan meminta pendapat kakak kelasnya, ia mendapat kritikan pedas bahwa karyanya sangat jelek…hal tersebut tak mematahkan semangat Asma untuk terus menulis, karena hal itu adalah kritik yang membangun untuk lebih memperbaiki diri agar menghasilkan karya yang baik. Asma remaja mengirimkan tulisan ke majalah, awalnya di tolak…tapi Asma selalu semangat hingga akhirnya tulisannya dimuat.

Kisah hidup yang menginspirasi, jangan kita mundur apabila kritikan dan kegagalan datang menghujam, itu semua adalah warna kehidupan yang harus kita lalui dengan sikap positif, bila kita terus berusaha meraih asa disertai doa, kerja keras dan semangat Inshaa Allah akan membuahkan hasil. Kisah Asma Nadia adalah cerminan dan harapan seorang anak kecil yang tinggal di pinggir rel kereta api yang kini mimpinya terwujud menjadi sebuah kenyataan. Keterbatasan dan materi bukan penghalang untuk menggapai impian, Allah akan berikan jalan bila hamba-Nya terus melangkah tanpa lelah dan mengharap ridha-Nya. Bahagia saya bisa mengenal Bunda Asma Nadia dan bahkan bisa berkunjung ke rumah sederhana saya di sebuah kampung yang jauh dari keramaian kota. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan hidup untuk Bunda Asma Nadia sekeluarga dan kita semua…Aamiin.

2 comments

  • pencari jati diri

    Suka anak-anak ya bu, saya seringkali bingung kalau liat anak2 yang banyak udah mulai rewel, padahal saya pernah jadi guru PAUD tapi yo tetep pusing kalo disuruh ngawasin anak2 banyak :)

    • Anak-anak sudah menjadi bagian dalam hidup saya, rasanya kalau Rumah Baca AsmaNadia Cibatu Garut libur karena ada sesuatu, sepi banget…iya memang anak-anak berisik…tapi saya tak terganggu :)

Tinggalkan Balasan