8 Tahun Lalu Perjuangan Begitu Hebat

fi2

Rabu, 05 Agustus 2015

♥ 8 Tahun Lalu Perjuangan Begitu Hebat ♥

C360_2015-08-05-15-57-46-024-1

 

Hal yang paling membuat saya tak tenang hingga saat ini, ketika fira terkena demam tinggi, senin kemarin, 03 Agustus 2015 saat menjelang petang suhu badan fira tinggi hinggi 38,2 C. Saya selalu sedia obat penurun panas. Selasa pagi kemarin karena suhu badannya masih demam tinggi, saya membawanya ke dokter terdekat. Dulu, sejak usia 1,8 tahun dan 2,5 tahun 2 kali fira di rawat ke Rumah Sakit karena demam tinggi yang menyebabkannya Step…alhamdulillah, ia hanya demam tak step, sejak selasa hingga hari ini fira tak sekolah, karena kondisi tubuhnya belum stabil.

Rabu ini, 05 Agustus 2015…genap 8 tahun usia Fira Ananda Rakhman, putri semata wayang kami. Doa mamah “semoga cepat sembuh ya, Allah senantiasa memberikan kesehatan, menjadi anak yang solehah, berbudi pekerti baik dan kelak menjadi insan yang berguna bagi lingkungan, masyarakat bahkan bangsa…aamiin”

Mengenang kelahiranmu…begitu penuh dengan perjuangan yang paling hebat, sejarah kehidupan saya yang tak bisa terlukiskan dengan kata. Operasi Caesar, tak semudah yang dibayangkan. Sabtu, 04 Agustus 2007…saya berada di Tasikmalaya sedang berkunjung ke rumah adik. Pagi itu, saya mengangkat seember air menuju toilet (saat itu mati lampu tak ada air di toilet, saya mengangkat air dari luar rumah). Setiba di depan pintu toilet, saya menjatuhkan ember tersebut karena berat. Apa yang terjadi, tiba-tiba seperti ada air yang membasahi bagian dalam kewanitaan saya, banyak sangat banyak, air bening…yang saya tak tahu apakah air itu???

Ibu saya ada bersama kami saat itu di Tasikmalaya, langsung membawa saya ke seorang Ibu Paraji (yang biasa membantu melahirkan), ia tak dapat banyak membantu. Saya menghubungi suami saya lewat hp yang berada di Garut untuk menjemput saya di Tasikmalaya. Siang hari suami tiba di Tasik dan langsung membawa saya ke Garut, air bening terus membasahi daerah kewanitaan saya tak henti-hentinya hingga pakaian basah bagaikan terguyur air.

Sore hari, kami sampai di Garut dan langsungengunjungi bidan terdekat rumah kami. Bidan menyatakan “air ketuban yang keluar” saya diminta dibawa ke dokter spesialis kandungan di daerah Garut kota yang jaraknya sekitar 1 jam dari rumah saya. Setiba di dokter spesialis kandungan menjelang malam, saya lihat seorang pria berpakaian rapih menuju mobil sedan silver. Suami langsung ke klinik dan langsung keluar bicara langsung dengan pria berpakaian rapih tersebut. Ternyata pria itu adalah dokter spesialis kandungan yang akan pulang karena prakteknya telah selesai. Dokter langsung bergegas menuju ke klinik kembali, suami membawa saya ke dalam klinik dan saya langsung di usg dan diperiksa dengan baik.

Menurut dokter, saya hatus segera dibawa ke Rumah Sakit, infonya ketuban saya telah pecah dan sudah banyak mengeluarkan air ketuban, air ketuban adalah nafas bayi di dalam kandungan saya. Bila air ketuban habis, tentu sangat berbahaya bagi keselamatan sang bayi. Menurut dokter, di rumah sakit saya harus infokan ke dokter jaga, saya harus diberi obat perangsang 2 botol untuk membantu pembukaan lahirnya bayi dan info dokter bila obat perangsang tak membuat bayi keluar dari rahim saya, saya harus dioperasi caesar segera untuk menyelamatkan sang bayi.

Kami langsung menuju Rumah Sakit malam hari sekitar pukul 20.00 wib, saya ditempatkan di ruangan yang terdapat juga seorang ibu yang terbaring pingsan dengan oksigen yang menempel dimulutnya. Takut, sangat takut….hanya kami berdua di ruangan itu. Suami dan beberapa orang menunggu di luar. Saya rebahkan tubuh saya di depan wanita hamil yang pingsan dan diberi oksigen tersebut, tiba-tiba jantung saya berdegup dengan kencang, tubuh saya lemas dan gemetar…wanita di depan saya tersebut bergerak dengan hebat melayangkan tubuhnya terus menerus tanpa henti. Tubuh saya gemetar dan perasaan takut berkecamuk, saya langsung berlari teriak keluar ruangan “tolong tolong, ibu itu….tolong” teriakan saya berhasil membuat beberapa petugas medis, perawat dan dokter jaga datang menuju ruangan untuk membantu ibu tersebut.

Oleh perawat saya ditempatkan di ruangan lain, ah…tenang rasanya, tapi perasaan takut itu masih ada. Menurut informasi dari petugas medis, ibu hamil yang pingsan dan diberi oksigen tersebut menderita darah tinggi dan mengalami pendarahan, akhirnya pingsan hingga kejang-kejang dan bila tak kejang lagi akan segera diberi tindakan operasi caesar.

Semalamam saya tak bisa tertidur, suami membuatkan saya teh manis hangat. Air ketuban dan darah masih membasahi aerah kewanitaan saya. Minggu subuh, 05 Agustus 2015 pukul 05.00 wib seorang dokter jaga menghampiri saya dan ia memasang sebotol obat perangsang dengan jarum yang dikenakan ke tangan saya. Ah, saya tak tahu apa itu obat perangsang dan bagaimana reaksinya. 15 menit setelah diberi obat perangsang, apa yang terjadi….???

Rasa sakit mulai menyerang saya, perut saya terasa mulas…saya menarik nafas lalu membuang nafas perlahan untuk menahan rasa sakit itu. Rasa mulas yang tak enak masih bisa saya tahan dalam waktu 4 jam hingga pukul 09.00 wib. Apa yang terjadi setelah itu…Allah, saya tak kuat rasa sakit yang begitu hebat, menyerang perut saya. Bagaikan puluhan pisau mengiris-iris perut saya…sakit yang begitu hebat. Beberapa bidan dan dokter memasukan beberapa alat dari besi dan tangannya ke arah kelamin saya, tubuh saya hanya tertutup kain dan saya tak pedulikan rasa malu karena semua bagian tubuh saya hampir terlihat dan dilakukan tindakan serta dilihat oleh beberapa bidan dan perawat. Tetap hingga siang masih pembukaan 2.

Rasa sakit yang bagaikan puluhan pisau menyayat perut saya terus terasa tak pernah henti, sakit yang begitu hebat…obat perangsang itu telah membuat saya pasrah pada Sang Kuasa, saya benar-benar tak sanggup. Hingga seorang dokter bernama Adit, yang menemani saya di dalam ruangan, saya pegang kedua tangannya dan saya tarik hingga saya cakari tangannya…kedua tangan dokter tersebut penuh cakaran saya hingga terluka dan berdarah. Tapi ia tak marah, ia memberikan semangat pada saya, untuk selalu berdoa dan terus berjuang menahan rasa sakit tersebut.

Satu botol obat perangsang telah habis di siang hari dan di ganti dengan obat perangsang yang baru. Obat perangsang ini sangat membuatku merana…aku tak sanggup ya Allah, sakit amat sakit. Dalam rasa sakit itu, saya pasrah pada Allah…bila memang waktu saya di dunia telah habis, saya rela karena saya tak kuat menahan sakit yang begitu hebat bagaikan puluhan pisau menyayat perut saya tanpa henti setiap waktu. Saya teringat orang tua saya, suami saya…saya hanya bisa menangis sambil berdoa beberapa surat pendek, ayat kursi dan permohonan pada Allah untuk memberikan yang terbaik bagi saya. Saat dokter yang disamping saya keluar, saya hanya memegang besi di samping tempat saya terbaring, menggerakan tubuh saya yang begitu sakit…Allah, sungguh sakit.

Suami dan orang-orang yang ikut ke rumah sakit tak bisa masuk keruangan saya, saya merasa hari itu adalah yang membuat saya pasrah dalam hidup, kekuatan tubuh saya melemah dan teriakan suara saya mulai melemah. Seorang bidan rumah sakit memarahi saya, karena saya memanggil suami saya dan ucapan bahwa saya merasa sakit dalam bahasa indonesia….bingung saya, bidan itu bilang “Kalau bicara pakai bahasa sunda saja, ini teriak pakai bahasa indonesia…memangnya ibu bukan orang sunda” ah bidan aneh, dengan nada ketus dan suara yang kencang ia bicara demikian…memangnya salah bila saya pakai bahasa indonesia??? Hihi, kalau ingat itu lucu juga dan kesal sama bidan yang tak punya empati itu.

Menjelang sore, saya menahan rasa sakit yang luar biasa dengan kepasrahan pada Allah…rasa sakit yang hebat disekitar perut saya telah membuat saya terdiam baik kata maupun gerakan tubuh karena tenaga dan kondidi saya telah melemah. Pukul 17.30 seorang dokter mencabut obat perangsang saya, karena tak ada perubahan dalam pembukaan kelahiraan saya..tetap pembukaan 2. Menurut dokter, saya akan di operasi caesar untuk menyelamatkan sang bayi karena air ketuban saya akan mengering. Dibawa perawat saya keluar ruangan,mata suami saya memerah dan meneteskan air mata, saya lihat juga ada kedua orang tua saya, kakak, adik dan saudara saya. Saya hanya melirik mereka dengan pasrah, rasa sedih dan kepasrahan saya rasakan saat itu. Di ruang operasi, seorang dokter menjepit ibu jari saya. Saya baca ayat kursi beberapa kali…mungkin belasan kali hingga saya tak ingat lagi apa yang terjadi…bagaikan tidur tanpa mimpi.

Saya mendengar sayup-sayup banyak suara, tapi saya tak bisa membuka mata…sulit terbuka entah kenapa, seakan saya berada di alam lain dan saya hanya bisa mendengar saja. Perlahan saya membuka mata saya, hanya bayangan hitam yang terlihat…tak jelas gelap gulita, sedikit demi sedikit akhirnya pandangan mata saya melihat ada ruangan dan ada orang yang hanya terlihat bayang-bayang. Saya merasa, apa saya tak dapat melihat lagi, hingga tak jelas melihat orang dan akhirnya lama-lama saya bisa jelas melihat suami dan ibu saya yang berada di samping saya….alhamdulillah.

Kata pertama yang keluar dari mulut saya “dimana bayinya, apa lengkap dan sehat?” Suami menjelaskan alhamdulillah, bayi kami sehat dan lengkap dan saat ini ada di ruang bayi (Fira lahir dengan berat badan 2,6 kg dan tinggi 47 cm). Alhamdulillah, hati saya tenang sekali…terima kasih Allah, kau masih berikan nafas untuk saya dan memberikan kesempatan hidup untuk saya, setelah saya berjuang menahan rasa sakit yang begitu hebat yang jujur saya tak sanggup menjalaninya. Hanya Kehendak-Mu Allah, saya bisa merasakan kebahagiaan memiliki anak dan menjalani hidup hingga saat ini.

Setelah 3 hari saya di Rumah Sakit, saya diperbolehkan pulang, tapi bayi saya belum bisa pulang karena harus dirawat lebih intensif di inkubator karena badannya kuning dan diare. Saya pandangi bayi saya dari inkubator, sedih rasanya saya tak bisa pulang bersamanya ke rumah.

Sampai di rumah, perjuangan itu belum selesai, begitu sulit untuk melangkahkan kaki, hanya sdikit demi sedikit gerak yang bisa saya langkahkan untuk menuju toilet. Sakit itu belum selesai, sakitnya saat akan buang air kecil dan buang air besar. Sakit itu terasa sekali, bila saya terbatuk dan banyak gerak. Semua butuh perjuangan, hingga saya saya bisa berjalan normal selama 2 minggu, itupun tak bisa berjalan lancar…alhamdulillah di hari kelima bayi saya telah boleh dibawa pulang ke rumah, bagaikan mimpi menjadi seorang ibu, bahagia rasanya.

Melahirkan itu penuh perjuangan tak semudah yang dibayangkan. Siapa bilang operasi caesar lebih mudah dari pada melahirkan normal??? menurut banyak informasi yang saya terima melahirkan dengan diberi obat perangsang lebih sakit berpuluh kali dari pada melahirkan normal. Kabar yang saya terima saat ini, di dunia kedokteran…untuk melahirkan tak boleh lagi menggunakan obat perangsang, karena sakitnya yang luar biasa.

Sayangi ibu, jangan sakiti hatinya, berbuat baiklahnpada ibu kita, karena melahirkan, merawat dan membesarkan anak itu penuh perjuangan.

Catatan hati fie, rabu 05 Agustus 2015.

2 comments

Tinggalkan Balasan